Website Resmi PCNU Kudus 10:38 am - Wednesday May 22, 2013

PESANTREN

Oleh Rosidi

Kendati identik dengan sarungnya yang ‘lusuh’ dan terkesan jauh dari modernitas seakan tidak bisa lepas, namun peranan pesantren bagi Indonesia sangat lah besar. Keberadaan pesantren dengan tradisinya yang ndeso dan kesederhanaannya, telah memberikan sumbangsih yang tiada ternilai bagi bangsa. Tidak hanya saat ini, tetapi jauh sebelum Indonesia merdeka dan menjadi sebuah negara.

Sebelum kemerdekaan, pesantren adalah basis pergerakan dan relawan perang. Para Kiai berada di garda depan memimpin perlawanan terhadap penjajah. Sementara santri-santri menjadi  prajurit yang gagah berani. Tidak ingatkah kita dengan sosok pejuang dari kalangan santri seperti Pangeran Diponegoro, KH. Hasyim Asy’ari, Hasanuddin, Ki Ageng Selo, dan lain sebagainya?

Mereka telah menjadi penyemangat (motivator) bagi para pejuang bangsa untuk merebut kemerdekaan. Hubbu al-wathan min al-iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) menjadi penyemangat yang mengalir di urat nadi, dan kemudian memunculkan kekuatan untuk merebut dan mempertahankan negara dari tangan penjajah.

Pasca proklamasi kemerdekaan, peran kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan, tak juga bisa dimungkiri. Peristiwa 10 November yang kemudian diperingati sebagai hari Pahlawan, adalah saksi.

KH. Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh kharismatik dan berpengaruh, lewat resolusi jihad yang dikumandangkannya, berhasil menggerakkan para santri menyerbu penjajah dan mempertahankan kedaulatan bangsa. Bung Tomo, salah seorang santri, tampil sebagai ikon perjuangan 10 November, waktu itu.

Maka, tidak berlebihan kiranya jika para pemimpin negeri ini merasa bangga terhadap pesantren, yang merupakan ‘warisan luhur’ bangsa dan telah menyumbangkan tradisi perjuangan dan keilmuan di masa-masa mendatang. Pesantren, karenanya, merupakan lembaga pendidikan berbasis agama (Islam) yang laik mendapatkan apresiasi dan penghargaan.

Keberadaan pesantren di Nusantara sejak abad ke 13–17 M., dan di Jawa pada abad ke 15–16 M (Mastuhu, 1994), melalui berbagai tradisi dan sistem pengajarannya, tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian (indigenous).

Karena keunikan dan keaslian yang dimiliki pesantren itulah, sehingga lembaga pendidikan kaum sarungan ini tidak goyah oleh terpaan zaman. Seorang Indonesianis Martin van Bruinessen menyatakan, pesantren adalah salah satu tradisi agung (great tradition) di Indonesia, yang mentransmisikan ajaran agama Islam (tradisional) sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad lalu, dengan lima elemen dasar yang melingkupinya, yaitu  pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik dan kiai (Martin van Bruinessen, 1995).

Martin, yang notabene bukan rakyat Indonesia, begitu menghormati keberadaan pesantren, tidakkah kita sebagai ‘pewaris’ seharusnya merasa malu ketika tidak menganggap keberadaannya?

Rasa bangga ini menjadi sesuatu yang wajar, karena –meminjam tesisnya Azyumardi Azra- fungsi pesantren sebagai transmisi dan transfer ilmu-ilmu keislaman, pemeliharaan tradisi keislaman, dan wahana mereproduksi ulama. (Nurcholish Madjid, 1997). Apalagi, pesantren juga berperan besar mendidik generasi bangsa dan wahana penjaga moral generasi bangsa yang tak pernah luntur sampai sekarang.(*)

 

( Penulis adalah  Wartawan Suara Merdeka, menyelesaikan studi di Sekolah Tinggi Agama Islam Mamba’ul Ulum Surakarta, alumnus Madrasah & Pondok TBS Kudus)


Filed in: Pesantren

One Response to “PESANTREN”

  1. Karyati Inayah
    29/03/2012 at 19:15 #

    Semoga Pesantren tetap menjadi pesantren yang selalu menjaga tradisi dan mengembangkan PESAN-TREN

Leave a Reply