Madrasah Diniyyah, yang lebih simple disingkat Madin merupakan salah satu dari sekian banyak lembaga pendidikan yang eksistensinya masih di nomor duakan. Karena disamping waktu pembelajaran sore atau bahkan malam, mata pelajaran yg diajarkan pun tidak untuk UN sehingga menambah kurang menariknya bagi orang tua yang berpikiran sepihak.
Terlepas dari akronim dan tanggapan atau pendapat seseorang mengenai eksistensi Madin, menurut penulis madin merupakan tempat belajar anak yang efektif dan berkwalitas serta markatable dalam kehidupan. Karena madin itu mempunyai durusul khususiyyah (pelajaran-pelajaran khusus) hanya didapati sekolah yg berlabel madrasah. Disamping itu madin mempunyai karekteristik pembelajaran tersendiri, karenakan :
Pertama, Madin adalah Tarbiyatul aulad fiddiniyyah wal akhiroh(pendidikan anak-anak untuk mempelajari agama dan akhiroh). Visi madin yang mengedepankan 3 J : Jejek Akhlaqi, Jejek Sholati dan Jejek moco alqur’ane, hal ini relevan dengan unsur pendidikan agama (Ibadah/sholat), Akhlaq (perilaku) dan Qiroah (baca alqur’an beserta tajwidnya) sehingga para santri akan lebih memahami visi madin tersebut.
Kedua, Madin adalah Tarbiyatul aulad fiddunyawiyyah ( pendidikan anak utuk bekal hidup didunia) banyak hal yang kita peroleh dari pembelajaran di madin sehingga tidak menutup kemungkinan outputnya akan mudah untuk mewujudkan kesejahteraan dalam hidup.
Sekarang anjuran kemenag setiap madin harus mendaftarkan santri kelas akhir untuk mengikuti soal ujian dari kantor tersebut, sehingga akhirnya diterbitkan Ijazah kelulusan santri madin. hal ini eksistensi madin yang terbuka lebar untuk berkehidupan yang lebih layak. contoh kasus : kalau lulusan madin jadi modin betapa sejahtera kehidupannya karena eksistensi modin di pedesaan mahal harganya.
Ketiga, Madin adalah Tarbiyatul aulad fissiyasah( pendidikan anak untuk mengenal politik) Politik disini bukan politik praktis yang sementara ini baru carut marut. Akan tetapi dengan mempelajari sejarah Nabi Muhammmad lewat kitab-kitab tarikh dan hadisnya santri sedikit banyak dapat menyerap pelajaran tersebut sehingga akan dapat memahami gambaran politik pada zaman rasulullah. Hal ini yang nantinya menjadi filter bagi anak-anak lulusan madin untuk pandangan politik bangsa dan negara.
Ke empat, Madin adalah Tarbiyatul aulad fit thobi’iyyah (pendidikan anak akan mengenal watak) Guru/ustadz yang mengajarkan bagi anak itu akan mempunyai nilai tersendiri. Keaneka ragaman watak guru ini akan menjadi simboisis perilaku anak, dan tidak akan lepas dari penilaian bagi anak. Santri akan menilai guru yang disenangi karena kesabarannya dan guru yang dibenci karena mempunya watak yang keras. inilah salah satu peneterasian anak untuk menganut disamping faktor watak orang tuanya.
Dari uraian di atas tinjauannya adalah segi kualitas pembelajaran yang dikemas dengan bungkus diniyyah sehingga tinggal bagaimana setiap madrasah diniyyah masing-masing untuk meraciknya. Akan tetapi tidak kalah penting dari itu semua adalah kelayakan kehidupan guru/ustadz yang masih terkesan diabaikan oleh pihak yang berwenang.
Semestinya sama-sama suatu lembaga pendidikan yang mempunyai tujuan yang sama yakni mencerdaskan anak untuk kehidupan beragama, bernegara dan berbangsa seharusnya sudah ada gerakan aplikatif untuk kearah tersebut sehingga guru/ustadz madin tidak sebagai anak tiri yang ditinggalkan bapak/ibunya.
Hal ini wajar penulis keluhkan karena strata kehidupan ustadz yang tidak sama sehingga gara-gara santri tidak mendapatkan pelajaran (kelas kosong) karena ustadznya masih ojek atau keluar kota untuk mencari nafkah kehidupan yang akhirnya meninggalkan tugas mulia sebagai guru madin.
Sebagai salah satu pendidik madin yang masih sangat mempertahankan eksistensinya, penulis menyampaikan catatan ini agar didengar dan ditindak lanjuti meskipun penulis tidak mewakili dari guru manapun.
Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah Swt. Amin.
Penulis adalah pendidik Madin Singocandi Kudus


keren, kang. mantap jaya.